Rumah Sehat menurut Feng Shui

Thursday, 15 September 2011

Sering uring-uringan, merasa tidak enak badan atau sumpek di rumah karena alasan tidak jelas? Coba cek, jangan-jangan ada yang salah dengan tata letak atau ruang di rumah Anda. Menurut ilmu feng shui, tata ruang yang kurang pas dapat membawa energi buruk bagi penghuninya. Konsultan feng shui, Jenie Kumala Dewi, dan pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia, Budi Haryanto, Ph.D., M.Sc., membantu mengulasnya untuk Anda.



MENGALIHKAN ENERGI KOTOR
Secara harfiah, feng berarti angin, dan shui berarti air. Kearifan dari negeri Tirai Bambu ini dipercaya mampu membangun keharmonisan antara langit dan bumi demi mendapat kebajikan hidup (Qi). Masyarakat Cina percaya, Qi dibawa dan disebarkan oleh angin (feng), atau mengalir bersama air (shui). Oleh sebab itu, menurut Jenie, rumah yang sehat adalah rumah yang memiliki sirkulasi udara dan saluran air yang baik.
“Inti dari ajaran feng shui adalah keseimbangan. Artinya, tiap ruang harus ditata sedemikian rupa supaya tidak jomplang antara yin dan yang,” ujar presenter acara Balancing Life di salah satu saluran televisi swasta ini. Ruang yang paling penting di rumah menurut feng shui adalah kamar tidur, dapur, dan kamar mandi. Sebab, di ruangan inilah kita paling sering melakukan aktivitas.

Rata-rata, setiap harinya orang akan berdiam di kamar selama 7-8 jam, baik untuk tidur ataupun melakukan aktivitas lain. Waktu yang cukup lama ini membuat orang dapat terekspos oleh berbagai macam energi. “Yang ditakutkan adalah kalau orang terkena energi kotor di saat terlelap. Akibatnya, badan bisa mudah terserang penyakit,” ujar Jenie.

Energi kotor yang dimaksud Jenie adalah aliran udara dan air kotor dari ruangan servis, seperti dapur dan kamar mandi. Oleh sebab itu, saluran pembuangan air tidak boleh dibuat menyeberangi bagian tengah rumah, tapi harus mengitari pinggir rumah,” tegasnya.

Budi sependapat karena dua alasan. Yang pertama untuk alasan kepraktisan. Seandainya saluran air itu rusak atau tersumbat, untuk membetulkannya kita tidak perlu membongkar lantai di dalam rumah. Yang kedua untuk alasan kesehatan. Arus air memiliki medan magnet yang dapat mengacaukan peredaran darah. Efeknya memang tidak langsung terasa. Tapi, mereka yang kamar atau tempat tidurnya berada persis di atas sumber air cenderung mengalami gangguan peredaran darah. “Kalau dibiarkan selama bertahun-tahun, gangguan ini dapat berubah menjadi kanker,” ujar Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, itu.

Dapur, meski dianggap ‘jantung’ rumah, posisinya tak boleh di tengah. Sebab, energi kotor, berupa asap kompor atau uap aroma makanan akan mengalir ke seluruh penjuru rumah. “Sedapat mungkin, letakkan dapur dan kamar mandi di bagian belakang dan tidak terlalu kelihatan,” ujar Jenie. Kompor sebagai pusat dari dapur posisinya tidak boleh persis di depan pintu. Peletakan ini akan membuat posisi pemasak terekspos energi dari luar dapur (angin, debu) yang masuk melalui pintu.

Karena adanya aliran energi kotor, kamar mandi dan dapur sebaiknya tidak persis di bawah atau di atas kamar tidur. Kamar mandi juga tak menjadi satu bagian dengan kamar tidur. Menurut Budi, kamar mandi dan dapur yang sifatnya lembap dapat ‘menularkan’ berbagai kuman, bakteri, atau virus ke ruangan sekitarnya. Khususnya di saat ruangan lembap udara mengandung uap air cukup tinggi. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan pernapasan seperti ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), bronkitis, dan asma.

MENJAGA YIN & YANG
Rumah yang menaati aturan feng shui didesain sedemikian rupa sehingga angin dapat berembus ke seluruh penjuru rumah. Karena itu, ruang tertutup tak boleh berada di tengah rumah, karena akan menghalangi angin dan sinar matahari yang berakibat rumah jadi pengap. Sama halnya dengan tiang, kolom, atau pilar, kalau diletakkan di tengah rumah dapat mengganggu perkembangan penghuninya. “Ruang keluarga atau ruang tamu terbuka ideal di tengah rumah,” tambah Jenie.

Sirkulasi udara atau angin sangat penting diperhatikan dalam merancang ruangan. Menurut Jenie, ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan. Misalnya, membuat ruangan dengan dua pintu yang berseberangan langsung. Angin yang masuk dari satu pintu akan langsung keluar menuju pintu satunya, sehingga tidak sempat bersirkulasi di dalam ruangan. Demikian pula dengan tangga, yaitu tempat pertemuan sirkulasi udara antara dua lantai. “Tangga tidak boleh diletakkan di bagian depan rumah. Karena, udara yang berembus melintasi tangga dapat langsung mengarah ke lantai atas tanpa sempat masuk ke dalam rumah,” jelas Jenie.

Ruangan yang ideal menurut feng shui memiliki empat sisi, tidak kurang tidak lebih. Hal ini penting, terutama diterapkan pada kamar tidur. Satu sisi untuk pintu, satu sisi di seberangnya untuk jendela. “Lebih ideal lagi kalau pintu dan jendela berseberangan secara diagonal, tidak sejajar lurus. Supaya angin yang masuk dari pintu tidak langsung keluar jendela, atau sebaliknya,” tambah Jenie. Dua sisi lainnya dimanfaatkan untuk menempelkan perabot seperti tempat tidur atau lemari. “Perabot sebaiknya menempel dinding supaya kokoh, tidak mudah goyah,” ujar Jenie.

Sisi untuk jendela dan pintu dalam feng shui disebut sisi yang (bergerak, karena ada bukaan tempat masuknya angin), sedangkan sisi untuk perabot disebut sisi yin (diam). Keseimbangan yin dan yang ini dapat diterapkan di semua ruangan rumah. Misalnya, dengan tidak merapatkan perabot ke dinding yang berpintu atau berjendela. “Sangat tidak disarankan untuk merapatkan sandaran kepala tempat tidur di bawah jendela atau di dekat pintu,” tegas Jenie.

Ventilasi yang memadai juga salah satu faktor penting dalam menciptakan rumah sehat. “Konsepnya sederhana. Udara bersih dari luar harus dapat berembus masuk untuk mengeluarkan udara kotor (CO2) yang dihasilkan oleh penghuni rumah,” ujar Budi. Ia menambahkan, ada baiknya setiap rumah memiliki lahan hijau dengan pohon-pohon yang dapat menghasilkan O2 atau oksigen. Sedapat mungkin jendela dibuat, supaya sinar matahari dapat masuk ke setiap ruangan untuk membunuh kuman dan bakteri.

MENGALIRKAN ENERGI POSITIF
Menurut Jenie, isi ruangan (penghuni dan perabot) harus seimbang dengan volume ruangan. “Punya banyak barang dan berantakan tidak masalah. Asal, ruangan tidak terasa sesak, dan barang-barang yang ada tidak menghalangi angin yang masuk,” jelas Jenie.

Sedapat mungkin, ruangan-ruangan di dalam rumah selalu atau sering dipakai oleh penghuninya. “Angin yang dihasilkan dari gerakan atau aktivitas penghuni dapat menghasilkan energi positif,” tambahnya. Ruangan yang jarang dipakai, perabotnya cenderung ditempeli debu. Perabot rumah yang berantakan dan berdebu, menurut Budi, tidak hanya dapat menimbulkan gangguan atau alergi pernapasan, tetapi juga menyebabkan perasaan tidak betah di rumah.

Perabot atau dekorasi tertentu juga dapat memengaruhi kesehatan rumah secara feng shui. Benda-benda seperti hewan mati yang diawetkan dan benda tajam seperti pedang atau samurai, dapat berefek negatif. “Segala sesuatu yang membawa aura kematian atau kekerasan, tidak baik disimpan di rumah. Sebab, ada kemungkinan dapat membawa sial,” ungkap Jenie. Dari sisi kesehatan, Budi mengatakan, pajangan seperti hewan mati yang diawetkan tak jarang masih menyisakan bahan kimia dari pengawetnya yang dapat membahayakan penghuni rumah.

Untuk mengalirkan energi positif ke dalam rumah, ada beberapa benda yang dapat diletakkan, terutama yang menyimbolkan kehidupan, seperti bunga-bunga segar atau akuarium dengan ikan-ikan hias. Untaian kristal yang dapat membiaskan cahaya matahari sangat baik digantungkan di jendela. “Bias sinar matahari dari kristal dapat melawan energi kotor. Tapi, kristalnya harus asli,” ujar Jenie.

Untuk menambah energi positif di kamar tidur ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Misalnya, dengan memasang soundsystem untuk memutar musik pembangkit mood (tidak termasuk televisi). Penataan cahaya yang tepat dapat menghasilkan energi positif dan mood baik. Idealnya, lampu memiliki dimmer switch, supaya terangnya dapat diatur sesuai kebutuhan. Terang ketika banyak aktivitas, remang-remang untuk bersantai.

Penulis: Primarita S. Smita

[Dari femina 29 / 2010]

Artikel Terkait



0 comments:

Post a Comment

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme