Pegawai Vs Pengusaha. Pilih Mana...?

Monday, 25 February 2013

Kakak teman saya pernah berkata pada saya, saat saya sedang merintis usaha: “Jadi pengusaha itu gampang.. Ga perlu belajar tinggi-tinggi, ga perlu les keterampilan khusus, tinggal buka usaha aja, beres..”



Seorang teman saya yang pegawai juga ngasih pernyataan yang senada: “Enak banget jadi pengusaha yaa.. Lihat bosku.. Kerjanya goyang-goyang kaki sama kipas-kipas.. Tapi penghasilannya jauh lebih besar dari kami yang setiap hari pontang panting bekerja buat dia..”

Coba cari teman kita yang pengusaha menengah, yang membangun usaha dari bawah.. Tanya sejarah ia membangun usahanya itu.. Semua teman-teman saya yang menjadi pengusaha, begitu saya tanyai sejarah perjuangannya membangun usaha dari nol, semuanya tiba-tiba memancarkan sinar terang di matanya, pandangan matanya menatap sebuah titik jauh di atas kepala saya, bercerita dengan berapi-api, kadang-kadang dengan genangan air di matanya.. Perjuangan mereka tidak pernah ringan.. Keliling-keliling berusaha menjual produk atau jasanya, ditolak di sana-sini, masa-masa sepi pesanan yang membuat kelimpungan menggaji karyawan, masa-masa di saat beberapa bank menelpon sekaligus dan mengancam karena pinjaman sudah jatuh tempo, ditipu rekanan bisnis sehingga ratusan juta rupiah, yang kesimpulannya hanya satu: jalan untuk jadi pengusaha yang sukses, tidak pernah mudah..

Ada teman saya pengusaha konstruksi, yang pernah nyaris bangkrut habis-habisan, karena ditipu rekanan.. Karyawannya harus tetap digaji, dan pinjaman bank terus berbunga.. Tekanan begitu berat, sehingga ia nyaris putus asa dan ingin menutup usahanya.. Tapi ia memikirkan para karyawannya, yang rata-rata sudah ikut dia belasan tahun.. Akhirnya ia mengumpulkan semua karyawannya, dan dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan semua kondisi perusahaan, dan akhirnya bertanya: apakah semua karyawan bersedia dikurangi gajinya sampai kondisi perusahaan membaik, yang ia belum tahu entah kapan? Ia sendiri tidak akan bergaji (teman saya membiasakan diri menggaji dirinya sendiri sebagai direktur perusahaan), dan tidak akan mengambil sepeserpun uang perusahaan, sampai usahanya diselamatkan.. Syukurlah, dan ajaibnya, semua karyawan setuju bertahan, bahkan menjadi tertantang membangun kembali perusahaan tersebut..

Selama 8 bulan mereka berjuang habis-habisan dengan kondisi keuangan berantakan, sehingga sang direktur pun hanya mengandalkan gaji istrinya yang PNS, untuk bertahan hidup.. Akhirnya, kondisi sulit itu berlalu, dan di akhir tahun, teman saya itu mengundang kembali semua karyawan, memeluk mereka satu persatu, mengucapkan terima kasih dengan tenggorokan tercekat, menaikkan gaji melebihi masa-masa sebelum krisis, dan membagikan bonus yang besar untuk semuanya..

Teman saya yang lain,  membuka bisnis bimbingan belajar.. Usahanya cukup sukses untuk ukuran saat itu.. Tetapi entah kenapa, usahanya tiba-tiba bangkrut, menyisakan utang ratusan juta, dan rumah dan kendaraan mereka pun tersita.. Teman saya itu harus naik motor butut ke sana kemari, pindah ke rumah kontrakan kumuh di pinggiran kota, dan nyaris setiap hari harus didatangi debt collector, yang memaki-maki ia di depan istri dan anaknya.. Sungguh hidup yang tidak tertahankan bagi sebagian besar kita.. Hebatnya, ia dan istri tidak pernah menyerah.. Ia membangun kembali bisnis yang lain dari kondisi minus.. Empat tahun kemudian, ia sudah kembali membeli rumah, mobil, dan menjadi lebih kaya dari sebelumnya..

Saat saya berusaha membangun bisnis tour organizer bersama teman-teman, kami nyaris menyerah berkali-kali.. Karena kami tidak padat modal, kami berusaha padat karya.. Kami menawarkan jasa ke mana-mana, tanpa hasil.. Sementara kebutuhan hidup terus mendesak.. Kami kerja serabutan di luar, sambil terus berusaha membangun usaha kami.. Kami menggagas ide untuk mengadakan tour misteri ke gua cerme, survei lokasi, merangkak di dalam genangan air menyusuri gua yang gelap, melobi Damian Magic School utk bekerjasama, kemudian menyebar brosur di UGM pada hari minggu: tidak ada yang berminat.. Mengadakan wisata mancing: rugi. Setiap hari pergi ke sana-sini, dapat penolakan dari sana sini, pulang ke rumah tanpa hasil, membuat semangat kami terus menurun.. Kami harus berjuang keras untuk menyemangati diri untuk ngesot ke kantor kami setiap pagi, untuk kembali mengalami kegagalan yang sama, dan pulang sore hari ke rumah dengan kepala tertunduk.. Tapi, kami tidak punya pilihan lain, dan kami tidak bisa menyerah.. Saya, tidak pernah melupakan masa-masa itu..

Proses membangun usaha dari bawah, tidak pernah mudah.. Sering kali kita tidak tahan dengan prosesnya, dan langsung kembali ke jalur pegawai jika kita tidak kuat menanggung bebannya.. Sebagai pegawai, kita cukup melakukan apa yang diperintahkan, maka gaji akan datang diakhir bulan.. Pengusaha? Sedikit saja kita salah mengambil keputusan, kita bisa jatuh ke lembah terdalam kehidupan manusia..

Beberapa teman saya mencoba buka usaha dengan modal ratusan juta, bangkrut, dan kembali menjadi pegawai, sambil menjilati luka-lukanya.. Itulah mengapa, seringkali mereka yang berpendidikan rendah, malah bisa menjadi pengusaha sukses: mereka tidak punya pilihan lain. Tidak ada perusahaan yang mau memberikan gaji yang layak untuk mereka, sehingga mereka tidak punya pilihan lain untuk berjuang.. Kalau mereka terantuk dan bangkrut, mereka tidak punya pintu belakang, dan pilihan mereka hanya bangun lagi.. Seringkali, itulah yang menjadi pembeda keberhasilan membangun usaha..

Sedangkan teman-teman yang berpendidikan tinggi, mereka punya pilihan lain.. Jika mereka dihajar pengalaman pahit, banyak dari mereka yang mundur teratur, dan kembali ke jalur yang aman: pegawai. Walaupun harus menelan gaji seadanya (jarang sekali ada pegawai yang curhat dengan galau : “gue pusing banget nih bro, gaji gue berlebih-lebih terus.. Bank-bank dah nolak deposito gue, brankas dah penuh sesak, tanah di sekeliling rumah dah habis digali untuk nanam duit.. Ada solusi?”), mereka tetap bertahan jadi pegawai.. Banyak teman-teman yang ingin buka usaha sejak beberapa tahun yang lalu, tapi banyak dari mereka yang tidak memulainya sampai sekarang, karena mereka masih punya pilihan.. Dan membayangkan harus menempuh resiko bangkrut, menghadapi kemungkinan memulai sesuatu dari nol lagi, membuat mereka selalu menunda-nunda langkah mereka, dengan berbagai alasan (“nunggu anak-anak besar, nunggu situasi ekonomi membaik, nunggu warisan, nunggu ekonomi mapan, nunggu pensiun, dan nunggu tahun 2012 lewat, siapa tahu kiamat jadi”).. Coba bayangkan, jika tiba-tiba besok mereka diPHK, apakah alasan-alasan itu masih relevan? Sering ga baca cerita tentang orang yang sukses jadi pengusaha, justru setelah dia diPHK dari pekerjaannya?

Jadi, benarkah menjadi pengusaha itu gampang? Memang benar, membuka usaha itu tidak perlu pendidikan tinggi.. Tapi, membangun usaha sampai berhasil itu, memerlukan semangat pantang menyerah, membuang gengsi, disiplin yang tinggi, dan keuletan yang luar biasa.. Dan itu, tidak akan pernah kita pelajari, dari sekolah manapun, kecuali sekolah kehidupan.. Penghasilan pengusaha lebih besar? Jelas, karena ia menanggung beban, resiko dan tanggung jawab yang jauh lebih besar dari pegawainya.. Seperti kata pamannya Spider-Man saat sekarat: “Ingatlah Peter, dibalik tanggung jawab yang besar, ada pendapatan yang besar..” (ngarang mode on). Pengusaha itu tinggal goyang-goyang kaki dan kipas-kipas? Iya benar, jika mereka itu penjahit dan tukang sate, hehehe..

Bukan, saya bukan sedang mencoba mematikan semangat mereka yang ingin atau pernah membuka usaha.. Saya cuma ingin katakan, kalau kita pernah mengalami sulitnya membangun usaha, ditipu, atau bahkan bangkrut sampai tinggal kolor doang, ga usah khawatir, ga usah buru-buru berfikir “ini karena gue lahir Selasa Kliwon”: itu normal. Nyaris semua pengusaha sukses pernah mengalaminya.. Teruskan saja, atau coba lagi, karena itu artinya kita sudah berada di jalan yang benar.. Pengusaha, setiap hari, memang hidup dalam badai.. Tapi yakinlah, jika berhasil melaluinya, kita akan menjadi pribadi yang luar biasa..

Ada kabar baik dan kabar buruk menjadi pengusaha.. Kabar baiknya: tidak ada orang yang menyuruh-nyuruh kita.. Kabar buruknya? Tidak ada orang yang menyuruh-nyuruh kita..

sumber: ekonomi.kompasiana.com

Artikel Terkait



0 comments:

Post a Comment

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme